Pendekatan utilitas kardinal
menyatakan bahwa utilitas dapat diukur secara langsung melalui angka-angka.
Oleh karena itu, pendekatan ini disebut juga dengan pendekatan kardinal
(cardinal approach).
Kata utilitas berasal dari bahasa
Inggris, yaitu utility. Utilitas memiliki satuan yang disebut util. Utilitas
yang diperoleh konsumen dalam mengonsumsi dapat berupa utilitas total (total
utility) dan utilitas marjinal (marginal utility). Teori utilitas menyatakan
utilitas barang dan jasa tertentu tidak bisa diukur dengan skala objektif,
konsumen berwenang dalam memberikan peringkat terhadap beberapa alternatif yang
berbeda.
Dalam pendekatan ini, digunakan
konsep Total Utility (TU) dan Marginal Utility (MU). Untuk memahami penerapan
pendekatan utilitas kardinal ini, misalnya setelah berolahraga, Anda akan
merasa haus. Untuk menghilangkan rasa haus tersebut, Anda memutuskan untuk
meminum air dalam gelas. Kali pertama Anda meminum satu gelas air, Anda akan
mendapatkan tingkat utilitas atau utilitas tertentu. Selanjutnya, Anda meminum
air dalam gelas yang kedua. Dengan mengonsumsi air dalam gelas kedua, total
utilitas Anda akan meningkat karena air dalam gelas kedua memberikan tambahan
utilitas.
Demikian juga, jika Anda memutuskan
untuk meminum air dalam gelas ketiga, nilai total utility akan bertambah karena
air dalam gelas ketiga memberikan tambahan utilitas. Tambahan utilitas ini
disebut utilitas marjinal atau marginal utility . Sejalan dengan hukum utilitas
marjinal yang semakin berkurang (the law of diminishing marginal utility),
semakin banyak Anda mengonsumsi air, utilitas tambahan yang diperoleh dari mengonsumsi
air tersebut semakin berkurang. Utilitas marjinal yang semakin berkurang muncul
dari kenyataan bahwa kenikmatan yang
Anda peroleh dari meminum air
tersebut akan menurun sejalan dengan makin banyaknya air yang dikonsumsi.
Dengan semakin berkurangnya utilitas tambahan tersebut, utilitas total akan
meningkat dengan laju yang semakin menurun. Nilai utilitas total akan maksimum
pada saat nilai utilitas marjinal sama dengan nol (MU = 0).
Konsep preferensi berkaitan dengan
kemampuan konsumen menyusun prioritas pilihan agar dapat mengambil keputusan.
Minimal ada dua sikap yang berkaitan dengan preferensi konsumen, yaitu lebih
suka (prefer) dan sama-sama disukai (indifference). Misalnya, ada dua barang X
dan Y, konsumen mengatakan X lebih disukai daripada Y (X > Y) atau X
sama-sama disukai seperti Y (X = Y). Tanpa sikap ini perilaku konsumen sulit
dianalisis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar